Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Nomor: 7 TAHUN 1964 (7/1964)
Tanggal: 27 JUNI 1964 (JAKARTA)
Sumber: LN 1964/66; TLN NO. 2665
Tentang: PEMUNGUTAN BEA-BEA, CUKAI-CUKAI DAN SUMBANGAN-SUMBANGAN WAJIB PAJAK ISTIMEWA (SWI) DI DAERAH TINGKAT II KEPULAUAN RIAU
Indeks: BEA-BEA, CUKAI-CUKAI DAN SUMBANGAN-SUMBANGAN WAJIB PAJAK ISTIMEWA (SWI) DI DAERAH TINGKAT II KEPULAUAN RIAU. PEMUNGUTAN.
Presiden Republik Indonesia,
Menimbang: bahwa dalam rangka pengintegrasian Daerah Tingkat II Kepulauan Riau dengan bagian lain-lain dari Republik Indonesia terkecuali Irian Barat dan setelah satuan Uang Rupiah yang berlaku di Daerah tersebut disesuaikan dengan yang berlaku di bagian lain-lain dari Republik Indonesia di luar Propinsi Irian Barat berdasarkan Penetapan presiden REFR DOCNM="64pnp003">No. 3 tahun 1964 (Lembaran- Negara 1964 No. 63), perlu ditinjau kembali soal pengaturan pemungutan bea-bea, cukai-cukai dan sumbangan-sumbangan wajib istimewa (S.W.I.) di Daerah Tingkat II Kepulauan Riau itu untuk disesuaikan dengan yang berlaku di bagian lain-lain dari Republik Indonesia di luar Propinsi Irian Barat;
Mengingat:
1. Pasal 5 ayat 1 juncto
pasal 20 ayat 1 Undang-undang Dasar;
2. Pasal 13 ayat 2 Undang-undang Dasar;
3. Indische Tariefwet (Stbl. 1873 No. 35) jo. Tarief-Ordonnantie (Stbl. 1910),
sebagai telah diubah dan ditambah;
4. Ordonansi Cukai Minyak Bumi (Stbl. 1886 No. 249) sebagai telah diubah dan
ditambah;
5. Ordonansi Cukai Bir 1931 (Stbl 1931 No. 488 dan 489) sebagai telah diubah
dan ditambah;
6. Ordonansi Cukai Tembakau 1932 (Stbl. 1932 No. 517) sebagai telah diubah dan
ditambah);
7. Ordonansi Cukai Gula (Stbl. 1933 No. 351) sebagai telah diubah dan ditambah;
8. Undang-undang REFR DOCNM="63uu001">No. 1 tahun 1963 tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang REFR DOCNM="62ppu011">No.
11 tahun 1962 tentang Pemungutan S.W.I. atas beberapa jenis barang (Lembaran-Negara
1962 No. 49) menjadi Undang-undang;
9. Undang-undang REFR DOCNM="63uu002">No. 2 tahun 1963 tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang REFR DOCNM="62ppu014">No.
14 tahun 1962 tentang Pungutan S.W.I. atas kendaraan bermotor yang diimpor ke
dalam Daerah Pabean Indonesia (Lembaran-Negara 1962 No. 52) menjadi Undang-undang;
Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong;
MEMUTUSKAN :
Dengan mencabut:
a. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 8 tahun 1963 tentang Pemasukan
Daerah Tingkat II Kepulauan Riau ke dalam Daerah Pabean Indonesia (Lembaran-Negara
1963 No. 102);
b. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 9 tahun 1963 tentang Penangguhan
pelaksanaan pemungutan bea-bea dan cukai-cukai di Daerah Tingkat II Kepulauan
Riau (Lembaran-Negara 1963 No. 106);
Menetapkan:
UNDANG-UNDANG TENTANG PEMUNGUTAN BEA-BEA, CUKAI-CUKAI DAN SUMBANGAN-SUMBANGAN WAJIB ISTIMEWA (S.W.I.) DI DAERAH TINGKAT II KEPULAUAN RIAU.
Pasal 1.
Daerah Tingkat II Kepulauan Riau dinyatakan sebagai bagian dari Daerah Pabean Indonesia yang termasuk dalam pasal Pertama dari Tarief-Ordonnantie (Stbl. 1910 No. 628) sebagai telah diubah dan ditambah terakhir dengan Undang-undang No. 19 tahun 1951 (Lembaran-Negara 1951 No. 102).
Pasal 2.
(1) Di Daerah Tingkat II
Kepulauan Riau dipungut bea-bea, cukai-cukai dan sumbangan-sumbangan wajib istimewa
(S.W.I.) menurut ketentuan dan tarip yang ditetapkan dengan atau berdasarkan
Peraturan Negara yang sediakala berlaku di bagian lain-lain Daerah Pabean Indonesia
di luar Propinsi Irian Barat, sekedar Peraturan Negara yang bersangkutan dinyatakan
berlaku untuk seluruh Daerah Pabean Indonesia.
(2) Ketentuan-ketentuan dari atau berdasarkan Peraturan Negara yang berlaku
di bagian lain-lain Daerah Pabean Indonesia di luar Propinsi Irian Barat untuk
pelaksanaan dan pengamanan pemungutan bea-bea, cukai-cukai dan sumbangan-sumbangan
wajib istimewa seperti termaksud pada ayat (1) pasal ini, berlaku pulau di Daerah
Tingkat II Kepulauan Riau.
Pasal 3.
Semua barang yang wajib bea masuk dan/atau cukai/sumbangan-sumbangan wajib istimewa (S.W.I.) berdasarkan ketentuan dalam pasal 2, yang pada waktu mulai berlakunya Undang-undang ini sudah berada di dalam peredaran bebas di wilayah Daerah Tingkat II Kepulauan Riau dianggap sudah dilunaskan bea masuknya dan/atau cukainya/sumbangan wajib istimewanya menurut ketentuan dan tarip yang berlaku.
Pasal 4.
Pelaksanaan Undang-undang ini diatur oleh Menteri Urusan Pendapatan, Pembiayaan dan Pengawasan.
Pasal 5.
Undang-undang ini mulai
berlaku pada 1 Juli 1964 terkecuali ketentuan-ketentuan dalam pasal 1 yang sudah
berlaku sejak 1 Nopember 1963.
Agar supaya setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Undang-undang
ini dengan penempatan dalam Lembaran-Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta,
pada tanggal 27 Juni 1964.
Presiden Republik Indonesia,
SUKARNO.
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 27 Juni 1964.
Wakil Sekretaris Negara,
SANTOSO S.H.
Brig. Jen. T.N.I.
PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANG No. 7 TAHUN 1964
TENTANG
PEMUNGUTAN BEA-BEA, CUKAI-CUKAI DAN SUMBANGAN-
SUMBANGAN WAJIB ISTIMEWA (S.W.I.)
DI DAERAH TINGKAT II KEPULAUAN RIAU.
UMUM.
1. Dalam rangka usaha Pemerintah
untuk melengkapkan pengintegrasian Daerah Tingkat II Kepulauan Riau dengan bagian
lain-lain dari Republik Indonesia, di luar Propinsi Irian Barat, telah ditetapkan
penyesuaian Satuan uang Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah di Daerah tersebut
dengan yang berlaku dibagian lain-lain Republik Indonesia berdasarkan Penetapan
Presiden No. 3 tahun 1964 (Lembaran-Negara 1964 No. 63). Dengan terjadinya penyesuaian
alat pembayaran yang sah itu tidak perlu lagi dipertahankan adanya ketentuan-ketentuan
khusus mengenai resim devisa untuk Daerah tingkat II tersebut.
2. Untuk lebih melengkapkan lagi pengintegarsian yang termaksud di atas dari
pula sebagai usaha untuk menstabilsasikan keuangan dan perekonomian di Daerah
tingkat II Kepulauan Riau, dianggap sudah tiba waktunya untuk menurut-sertakan
Daerah tersebut dalam menghasilkan sumbangan bagi Perbendaharaan Negara dibidang
bea-bea, cukai-cukai dan sumbangan-sumbangan wajib istimewa (S.W.I.), sebagai
yang sediakala berlaku dibagian lain-lain dari Daerah Pabean Indonesia di luar
Propinsi Irian Barat.
3. Walaupun Daerah tingkat II Kepulauan Riau sejak 1 Nopember 1963 telah merupakan
bagian dari Daerah Pabean Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-undang No. 8 tahun 1963 (Lembaran-Negara 1963 No. 101), akan tetapi ketentuan-ketentuan
tentang pemungutan bea-bea dan cukai-cukai sebagai ditetapkan dalam Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-undang tersebut tidak sesuai lagi dengan inti dari
pada tujuan yang disebutkan di atas tadi dan karena itu perlu dibatalkan/dicabut.
Untuk memudahkan prosedur perundang-undangan, dipandang lebih baik mencabut
seluruh Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang tersebut dan mengatur kembali
soal pemasukan Daerah tingkat II Kepulauan Riau ke dalam wilayah Daerah Pabean
Indonesia.
4. Dengan demikian Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 9 tahun
1963 (Lembaran-Negara 1963 No. 106) tentang penangguhan pelaksanaan pemungutan
bea-bea dan cukai di Daerah tingkat II Kepulauan Riau perlu dibatalkan/dicabut
juga.
5. Adapun Peraturan Negara yang menetapkan,mengatur pemungutan bea-bea, cukai-cukai
dan Sumbangan-sumbangan Wajib Istimewa (S.W.I.) dibagian lain-lain Daerah Pabean
Indonesia, sekedar yang berlaku untuk seluruh Daerah Pabean Indonesia, untuk
di luar Propinsi Irian Barat, diperincikan dalam kondisderans dari Undang-undang
ini.
PASAL DEMI PASAL.
Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2.
Peraturan Negara yang dimaksudkan dalam pasal ini yalah Peraturan-peraturan
yang telah diperincikan dalam konsiderans. Peraturan Cukai Alkohol Sulingan
yang menurut ketentuannya sendiri berlaku hanya di Jawa dan Madura, tidak berlaku
di Daerah tingkat II Kepulauan Riau.
Pasal 3.
Dianggap perlu untuk mengadakan ketentuan khusus mengenai barang-barang yang
wajib bea masuk dan/atau cukai/sumbangan wajib istimewa, yang pada waktu mulai
berlakunya pemungutan bea-bea, cukai-cukai (S.W.I.) di Daerah tingkat II Kepulauan
Riau sudah diperedaran bebas lepas dari pengawasan Direktorat Bea dan Cukai.
Barang-barang itu memang sebelumnya belum dikenakan bea-bea, cukai-cukai/sumbangan-sumbangan
wajib istimewa, sekedar yang berasal dari luar negeri dan belum dikenakan pembebanan
seperti itu dibagian lain-lain dari Daerah Pabean Indonesia.
Ketentuan khusus itu bertambah perlu lagi, bilamana kelak sebagian dari barang-barang
yang sudah diperedaran bebas itu didatangkan kebahagian lain-lain dari Daerah
Pabean Indonesia.
Untuk menghindarkan hal-hal yang akan menyulitkan rakyat yang memiliki/menguasai
barang barang itu dianggap sebagai telah dilunaskan secukupnya.
Pasal 4 dari pasal 5.
Cukup jelas. lihat selanjutnya pada No. 3 bagian Umum.
--------------------------------
CATATAN
Kutipan: LEMBARAN NEGARA
DAN TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA TAHUN 1964 YANG TELAH DICETAK ULANG